CIAMIS, MCNNEWS.ID
Kisah inspiratif. Abah Kosim berdoa minta segera dicabut nyawanya. “Abah berdoa minta mati secepatnya, karena sudah tidak tahan dengan sakit selama 50 tahun,” bisiknya saat kedatangan tim Jum’at Berkah H. Wahyu saat berbagi sembako untuk lansia.
Warga Dusun Nanggerang Desa Sukasetia Kecamatan Cihaurbeuti Kabupaten Ciamis itu berkisah, dia menderita kelumpuhan selama 50 tahun. Tak ada harapan untuk sembuh total, karena itu dia meminta mati secepatnya.
Tidak ada panggung, tidak ada pengeras suara, apalagi baliho ucapan terima kasih. Di Dusun Nanggerang, Desa Sukasetia, Kecamatan Cihaurbeuti, sebuah peristiwa kecil berlangsung tanpa hiruk-pikuk, namun justru di situlah letak maknanya.
Baca juga : mengungkap arti kode spbu di indonesia
Jumat sore, 10 April 2026, di tengah udara lembap sisa hujan, seorang pengusaha durian, H. Raden Wahyu, memilih berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit kampung. Bukan untuk memeriksa kebun atau mengurus distribusi dagangan, melainkan mengetuk pintu rumah warga yang nyaris luput dari perhatian banyak orang.
Namanya memang dikenal lewat usaha Durian Kujang. Tetapi sore itu, identitas sebagai pebisnis seolah ditanggalkan. Ia datang sebagai bagian dari kampung itu sendiri, membawa paket sembako, sekaligus membawa isyarat bahwa keberhasilan tak selalu harus ditampilkan dengan gemerlap.

Lima keluarga menjadi tujuan langkahnya. Jumlah yang mungkin tampak kecil dalam hitungan statistik, tetapi tidak dalam ukuran kebutuhan sehari-hari. Di salah satu rumah, seorang ibu bernama Kartini menerima bantuan itu dengan mata yang tak sepenuhnya mampu menyembunyikan beban hidup. Dapur sederhana di rumahnya, yang tak selalu berasap, setidaknya punya harapan untuk beberapa hari ke depan.
“Alhamdulillah,” ucapnya singkat. Tidak panjang, tapi cukup.
Berbeda dengan banyak aksi sosial yang kerap dibungkus seremoni, langkah H. Wahyu justru terasa sunyi. Ia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Menyimak cerita warga, menyerap kenyataan yang seringkali tak tercatat dalam laporan resmi.
Baca juga : kisah sukses mcdonalds dari restoran kecil
Baginya, kegiatan ini bukan program sesaat. Ia menyebutnya sebagai bagian dari “Jumat Berkah”, sebuah kebiasaan yang ingin dijaga, bukan sekadar dilaksanakan. “Rezeki itu tidak pernah benar-benar milik kita sendiri,” ujarnya. Sebuah kalimat yang kerap terdengar klise, tetapi sore itu menemukan bentuk nyatanya.
Namun di balik kehangatan itu, terselip sisi lain yang tak mudah diabaikan. Salah satu penerima bantuan, dalam lirih yang nyaris tak terdengar, mengaku lebih sering berdoa agar hidupnya segera berakhir. Sebuah pengakuan yang mengguncang, menunjukkan bahwa kemiskinan bukan hanya soal isi dapur, tetapi juga soal daya tahan batin.
Di titik ini, aksi berbagi tak lagi sekadar soal memberi. Ia menjadi pengingat bahwa ada persoalan yang lebih dalam dari sekadar kekurangan materi: rasa putus asa yang diam-diam tumbuh di sudut-sudut rumah sederhana.
Langkah kecil di Cihaurbeuti mungkin tak akan mengubah peta kemiskinan. Namun ia membuka satu hal penting: bahwa kepedulian tak harus menunggu besar. Ia bisa dimulai dari pintu ke pintu, dari percakapan ke percakapan, dari kesediaan untuk hadir.
Dari kebun durian hingga dapur warga, perjalanan H. Wahyu sore itu seolah menegaskan satu hal, bahwa ukuran keberhasilan bukan hanya seberapa tinggi seseorang berdiri, tetapi seberapa sering ia bersedia merunduk untuk melihat yang tertinggal.
Dan di kampung kecil itu, di antara dingin yang belum sepenuhnya reda, ada kehangatan yang datang tanpa suara, namun terasa nyata.**
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Channel Whatsapp
Follow Instagram MCNNEWS.ID
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Facebook






















