Penulis : Shanny Ratman
Editor : Tim mcnnews.id
MCNNEWS.ID
Perkembangan media sosial telah mengubah wajah industri kuliner secara drastis dalam beberapa tahun terakhir. Jika dahulu sebuah tempat makan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikenal luas, kini sebuah makanan bisa langsung viral hanya dalam hitungan jam berkat video pendek di TikTok, Instagram Reels, Facebook, atau YouTube Shorts.
Fenomena ini membuat banyak pelaku usaha kuliner berlomba-lomba menciptakan produk yang unik, menarik perhatian, dan mudah dibagikan di media sosial. Mulai dari minuman dengan warna mencolok, makanan dengan topping berlebihan, hingga konsep penyajian yang tidak biasa, semuanya dibuat agar mampu menarik perhatian warganet.
Namun di balik cepatnya popularitas tersebut, muncul satu pertanyaan penting: mampukah kuliner viral bertahan lama?
Pertanyaan ini semakin menarik ketika dibandingkan dengan keberadaan kuliner legendaris yang sudah puluhan tahun bertahan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada tren media sosial. Banyak warung makan tradisional, restoran keluarga, hingga jajanan khas daerah yang tetap ramai pengunjung meski tidak terlalu aktif melakukan promosi digital.
Lalu apa sebenarnya perbedaan antara kuliner viral dan kuliner legendaris? Mengapa ada makanan yang hanya populer sesaat, sementara yang lain mampu bertahan lintas generasi? Berikut ulasan lengkapnya.
Media Sosial Mengubah Pola Bisnis Kuliner Modern
Tidak bisa dipungkiri, media sosial telah menjadi alat promosi paling kuat dalam dunia kuliner modern. Saat ini masyarakat tidak lagi hanya mencari makanan berdasarkan rekomendasi keluarga atau teman, tetapi juga berdasarkan konten yang muncul di beranda media sosial mereka.
Video makanan yang tampak menggoda sering kali membuat orang penasaran dan akhirnya datang langsung ke tempat tersebut. Bahkan tidak sedikit konsumen yang rela antre berjam-jam hanya demi mencoba makanan yang sedang viral.
Fenomena ini menciptakan pola baru dalam bisnis kuliner, yaitu:
- makanan harus menarik secara visual,
- tempat harus estetik,
- penyajian harus unik,
- dan produk harus mudah dijadikan konten.
Akibatnya, banyak pelaku usaha lebih fokus menciptakan sensasi dibanding membangun kualitas jangka panjang.
Padahal dalam dunia bisnis kuliner, popularitas belum tentu sejalan dengan ketahanan usaha.
Kuliner Viral Biasanya Mengandalkan Efek Kejutan
Sebagian besar kuliner viral muncul karena memiliki sesuatu yang dianggap berbeda dan mengejutkan. Faktor kejutan inilah yang membuat orang tertarik mencoba.
Contohnya:
- minuman dengan ukuran jumbo,
- makanan super pedas,
- dessert dengan topping berlebihan,
- makanan dengan warna tidak biasa,
- atau kombinasi menu yang unik.
Ketika pertama kali muncul, produk seperti ini memang sangat menarik perhatian. Media sosial kemudian mempercepat penyebaran tren tersebut karena banyak orang ikut membuat ulasan, video review, atau konten mukbang.
Namun masalah mulai muncul ketika rasa penasaran masyarakat mulai berkurang.
Banyak kuliner viral ternyata hanya kuat di tampilan visual, tetapi kurang memuaskan dari segi rasa, kualitas, maupun pelayanan. Konsumen akhirnya hanya membeli sekali untuk kebutuhan konten media sosial, lalu tidak kembali lagi.
Inilah alasan mengapa banyak bisnis kuliner viral hanya bertahan beberapa bulan sebelum akhirnya sepi.
Contoh Kuliner Viral yang Pernah Sangat Populer
Indonesia sudah berkali-kali mengalami gelombang tren kuliner viral yang datang dan pergi dengan cepat.
1. Es Kepal Milo
Beberapa tahun lalu, Es Kepal Milo menjadi fenomena besar di berbagai kota. Hampir di setiap sudut jalan muncul penjual minuman ini.
Antrean pembeli bahkan sempat sangat panjang karena masyarakat penasaran dengan sensasi es serut yang disiram cokelat Milo melimpah.
Namun setelah tren mereda, sebagian besar penjual mulai menghilang. Banyak konsumen merasa rasanya terlalu manis dan tidak cukup spesial untuk dibeli berulang kali.
2. Dalgona Coffee
Saat pandemi COVID-19 melanda, dalgona coffee menjadi salah satu minuman paling viral di media sosial.
Hampir semua orang mencoba membuat kopi berbusa tersebut di rumah dan mengunggahnya ke TikTok maupun Instagram.
Tetapi popularitas dalgona coffee ternyata tidak berlangsung lama. Setelah tren media sosial berganti, minuman ini perlahan jarang dibicarakan lagi.
3. Croffle
Croffle, yaitu perpaduan croissant dan waffle, juga sempat booming di Indonesia. Banyak kafe berlomba menjual menu ini dengan berbagai topping.
Pada awalnya croffle menjadi simbol gaya hidup modern dan kekinian. Namun seiring waktu, tren tersebut mulai menurun dan hanya beberapa merek saja yang mampu bertahan.
4. Dessert Box Artis
Beberapa tahun lalu dessert box milik para selebriti sempat mendominasi pasar kuliner online. Karena dipromosikan oleh figur publik terkenal, produk tersebut langsung mendapat perhatian besar.
Namun tidak semua mampu bertahan lama. Persaingan yang ketat serta kualitas produk yang tidak konsisten membuat sebagian bisnis akhirnya tenggelam.
Viral Tidak Sama dengan Loyalitas Pelanggan
Salah satu kesalahan terbesar dalam bisnis kuliner modern adalah menganggap viralitas sebagai ukuran kesuksesan jangka panjang.
Padahal viral hanya memberikan perhatian sementara. Setelah masyarakat mencoba, mereka akan menilai apakah produk tersebut benar-benar layak dibeli kembali atau tidak.
Bisnis kuliner yang kuat justru dibangun dari loyalitas pelanggan, bukan sekadar jumlah penonton video.
Pelanggan loyal biasanya datang kembali karena:
- rasa makanan konsisten,
- pelayanan memuaskan,
- harga sesuai kualitas,
- dan memiliki pengalaman emosional dengan produk tersebut.
Sementara kuliner viral sering kali hanya mengandalkan pembeli baru yang datang karena rasa penasaran.
Jika tidak ada inovasi atau kualitas yang kuat, bisnis akan mudah ditinggalkan.
Mengapa Banyak Kuliner Viral Cepat Tenggelam?
Ada beberapa alasan utama mengapa banyak kuliner viral gagal bertahan lama.
1. Terlalu Fokus pada Penampilan
Di era media sosial, tampilan visual memang penting. Namun jika rasa makanan tidak sebanding dengan ekspektasi konsumen, pelanggan akan kecewa.
Banyak makanan viral terlihat menarik di kamera tetapi biasa saja saat dicicipi langsung.
2. Tidak Memiliki Identitas Kuat
Sebagian bisnis viral hanya mengikuti tren tanpa memiliki ciri khas yang jelas. Ketika tren berubah, mereka kehilangan daya tarik.
3. Persaingan Sangat Cepat
Begitu sebuah makanan viral, puluhan bahkan ratusan penjual baru langsung bermunculan. Persaingan harga pun menjadi tidak sehat.
Akhirnya keuntungan menurun dan banyak usaha tidak mampu bertahan.
4. Konsumen Mudah Bosan
Karakter pengguna media sosial saat ini sangat cepat berpindah tren. Hari ini ramai, minggu depan bisa langsung dilupakan.
Karena itu bisnis yang hanya mengandalkan tren sangat rentan mengalami penurunan.
Kuliner Legendaris Justru Bertahan Karena Konsistensi
Berbeda dengan kuliner viral, kuliner legendaris tumbuh secara perlahan tetapi memiliki fondasi yang jauh lebih kuat.
Kuliner legendaris biasanya:
- memiliki resep khas,
- menjaga kualitas rasa,
- mempunyai pelanggan tetap,
- dan membangun kepercayaan selama bertahun-tahun.
Menariknya, banyak tempat makan legendaris tidak pernah benar-benar sepi meski tren kuliner terus berubah.
Hal ini menunjukkan bahwa konsistensi jauh lebih penting dibanding popularitas sesaat.
Faktor yang Membuat Kuliner Legendaris Bertahan Puluhan Tahun
1. Rasa yang Konsisten
Konsumen selalu kembali karena mereka tahu rasa makanannya tidak berubah.
Konsistensi ini sangat penting dalam bisnis kuliner karena pelanggan ingin mendapatkan pengalaman yang sama setiap kali datang.
2. Memiliki Nilai Emosional
Banyak kuliner legendaris memiliki hubungan emosional dengan pelanggan.
Ada yang sudah makan di tempat tersebut sejak kecil, ada yang mengenangnya sebagai bagian dari tradisi keluarga, dan ada pula yang menjadikannya simbol nostalgia.
Faktor emosional seperti ini sulit ditiru oleh kuliner viral.
3. Menjaga Kualitas Bahan
Sebagian besar kuliner legendaris sangat menjaga kualitas bahan baku.
Mereka tidak mudah mengorbankan kualitas hanya demi keuntungan cepat.
4. Adaptif Tanpa Kehilangan Identitas
Meski mempertahankan resep lama, kuliner legendaris tetap mampu beradaptasi dengan zaman.
Mereka mulai menggunakan media sosial, layanan pesan online, hingga sistem pembayaran digital tanpa menghilangkan ciri khas utama.
Contoh Kuliner Legendaris yang Tetap Eksis
Di Indonesia ada banyak contoh usaha kuliner yang berhasil bertahan puluhan tahun.
Gudeg di Yogyakarta
Gudeg menjadi salah satu contoh kuliner tradisional yang tetap memiliki pasar kuat hingga sekarang.
Meski banyak makanan modern bermunculan, wisatawan tetap mencari gudeg saat datang ke Yogyakarta.
Hal ini terjadi karena gudeg tidak hanya menjual rasa, tetapi juga identitas budaya.
Bakmi Legendaris di Jakarta
Banyak bakmi legendaris di Jakarta mampu bertahan lintas generasi karena menjaga resep asli dan kualitas rasa.
Pelanggan bahkan rela antre demi mendapatkan cita rasa yang tidak berubah sejak puluhan tahun lalu.
Warung Soto Tradisional
Di berbagai daerah Indonesia, warung soto legendaris tetap ramai meski tempatnya sederhana.
Ini membuktikan bahwa konsumen sebenarnya lebih menghargai rasa dan kualitas dibanding sekadar tampilan estetik.
Menariknya, Kuliner Tradisional Kini Mulai Viral Kembali
Fenomena unik saat ini adalah kuliner tradisional justru mulai mendapatkan perhatian besar di media sosial.
Banyak konten kreator kuliner mulai mengangkat:
- jajanan pasar,
- makanan tempo dulu,
- warung legendaris,
- hingga resep tradisional daerah.
Akibatnya, generasi muda mulai tertarik mencoba makanan yang sebelumnya dianggap kuno.
Hal ini menunjukkan bahwa media sosial sebenarnya tidak hanya bisa digunakan untuk makanan modern, tetapi juga mampu menghidupkan kembali kuliner tradisional.
Bisakah Kuliner Viral Bertahan Lama?
Jawabannya bisa, tetapi ada syaratnya.
Kuliner viral hanya akan bertahan jika mampu berkembang dari sekadar tren menjadi bisnis yang memiliki fondasi kuat.
Beberapa faktor penting agar kuliner viral bisa bertahan antara lain:
1. Menjaga Kualitas Produk
Setelah viral, tantangan terbesar adalah menjaga kualitas saat jumlah pelanggan meningkat.
Banyak bisnis gagal karena kualitas menurun ketika permintaan membludak.
2. Membangun Brand yang Kuat
Kuliner yang bertahan lama biasanya memiliki identitas merek yang jelas dan mudah diingat.
3. Memiliki Pelanggan Loyal
Bisnis tidak bisa hanya bergantung pada pelanggan baru.
Mereka harus mampu membuat konsumen datang kembali.
4. Terus Berinovasi
Tren memang berubah cepat, tetapi inovasi yang tepat dapat membuat bisnis tetap relevan.
Contoh Kuliner Viral yang Berhasil Bertahan
Tidak semua kuliner viral gagal. Ada juga yang berhasil berkembang menjadi bisnis besar.
Kopi Susu Kekinian
Gelombang kopi susu modern sempat menjadi tren besar di Indonesia.
Meski banyak merek tenggelam, beberapa brand mampu bertahan karena memiliki sistem bisnis yang baik dan kualitas produk stabil.
Mereka tidak hanya mengandalkan viralitas, tetapi juga memperkuat operasional, pelayanan, dan branding.
Ayam Geprek Modern
Ayam geprek sempat viral beberapa tahun lalu. Namun hingga kini banyak merek ayam geprek masih bertahan karena menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar.
Mereka terus berinovasi dalam menu, sambal, dan layanan pesan online.
Konsumen Saat Ini Lebih Kritis
Masyarakat modern kini semakin kritis dalam memilih makanan.
Mereka tidak hanya mempertimbangkan:
- tampilan,
- harga,
- dan viralitas,
tetapi juga:
- kualitas bahan,
- kebersihan,
- pelayanan,
- hingga nilai kesehatan.
Karena itu bisnis kuliner yang hanya mengandalkan sensasi akan semakin sulit bertahan dalam jangka panjang.
Pelajaran Penting bagi Pelaku Usaha Kuliner
Fenomena kuliner viral dan kuliner legendaris memberikan pelajaran penting bagi pelaku usaha.
Media sosial memang penting sebagai alat promosi, tetapi fondasi utama bisnis tetap berada pada:
- kualitas rasa,
- pelayanan,
- konsistensi,
- dan kepercayaan pelanggan.
Kuliner viral bisa menjadi pintu awal untuk dikenal masyarakat luas. Namun untuk bertahan lama, sebuah bisnis harus mampu menciptakan hubungan emosional dengan pelanggan.
Di sisi lain, kuliner legendaris membuktikan bahwa kualitas yang dijaga secara konsisten mampu mengalahkan perubahan tren zaman.
Kesimpulan
Kuliner viral dari media sosial memang mampu menciptakan popularitas instan dalam waktu singkat. Namun tidak semua mampu bertahan lama karena banyak yang hanya mengandalkan sensasi dan tren sesaat.
Sebaliknya, kuliner legendaris mampu bertahan puluhan tahun karena memiliki kualitas rasa yang konsisten, identitas kuat, pelanggan loyal, serta nilai emosional yang sulit tergantikan.
Meski begitu, media sosial sebenarnya dapat menjadi peluang besar bagi semua jenis usaha kuliner, termasuk kuliner tradisional. Dengan strategi yang tepat, bisnis kuliner bisa memanfaatkan viralitas untuk memperluas pasar tanpa kehilangan kualitas dan identitasnya.
Pada akhirnya, dunia kuliner tidak hanya soal menjadi viral, tetapi tentang bagaimana menciptakan rasa, pengalaman, dan kepercayaan yang membuat pelanggan terus kembali meski tren terus berubah.
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Channel Whatsapp
Follow Instagram MCNNEWS.ID
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Facebook




















