Penulis : Shanny Ratman
Editor : Tim mcnnews.id
MCNNEWS.ID
Sejarah Tanaman Jarak yang Dipaksakan oleh Tentara Jepang
Di masa pendudukan Jepang, rakyat Jawa bukan hanya dipaksa bekerja untuk perang, tetapi juga diwajibkan menanam tanaman jarak di pekarangan hingga lahan pertanian mereka. Tanaman ini dibutuhkan Jepang sebagai bahan baku pelumas mesin perang dan pesawat tempur.
Hal ini dilakukan karena kebutuhan tentara Jepang akan minyak pelumas meningkat tajam setelah perang pecah.
Sebelum perang, produksi jarak di Jawa masih terbatas, hanya sekitar 10 ribu ton per tahun, dan sebagian besar diekspor ke Jepang. Namun, dengan kebutuhan yang meningkat, pemerintah pendudukan Jepang memutuskan untuk meningkatkan produksi jarak secara signifikan.
Target pada tahun 1943 mencapai 40 ribu ton dan meningkat menjadi 60 ribu ton pada 1944—empat hingga enam kali lipat dari produksi sebelum perang.
Untuk mencapai target tersebut, Jepang melakukan kampanye besar-besaran sejak tahun 1942. Para petani tidak hanya dipaksa menanam jarak di lahan pertanian mereka, tetapi juga di pekarangan rumah dan sepanjang jalan.
Bahkan, penduduk kota seperti di Kota Kediri juga merasakan dampaknya. Setiap keluarga diperintahkan menanami setengah dari luas pekarangan mereka dengan jarak dan setengahnya lagi dengan tanaman pangan.
Baca juga : Asal Usul Danau Toba, Fenomena Alam Spektakuler yang Mendunia
Tentara Jepang juga mengirimkan instruktur pertanian spesialis jarak yang dikenal sebagai “jarak shidoin” untuk memberi bimbingan penanaman. Setelah panen, biji jarak harus diserahkan kepada perusahaan yang ditunjuk. Untuk memastikan kelancaran penyerahan, di Pemalang, kewajiban ini dikaitkan dengan pencatuan minyak tanah.

Selain itu, pemerintah Jepang melarang penggunaan lampu berbahan minyak jarak untuk penerangan demi untuk meningkatkan produksinya. Meski kebijakan ini dinilai kurang kejam dibandingkan kebijakan lain, tekanan terhadap penduduk desa tetap ada.
Beberapa bahkan mengalami konsekuensi berat, seperti kepala desa di Pemalang yang bunuh diri karena gagal memenuhi target produksi.
Berdasarkan sejumlah catatan sejarah masa pendudukan Jepang di Indonesia, tanaman jarak menjadi salah satu komoditas penting bagi kebutuhan perang Jepang saat itu.
“Bagi masyarakat desa pada masa itu, kewajiban menanam jarak menjadi beban tambahan di tengah sulitnya memenuhi kebutuhan pangan selama perang berlangsung.”
Jenis Tanaman Jarak yang Banyak Dikenal di Indonesia
Tanaman jarak memiliki beberapa jenis, yang paling umum dikenal di Indonesia adalah jarak pagar (Jatropha curcas) dan jarak kaliki (Ricinus communis). Jarak pagar sering disebut jarak kosta, sedangkan jarak kaliki biasanya disebut “jarak” saja.
Tanaman jarak memiliki ciri khas berupa daun berbentuk jantung dengan ukuran cukup lebar. Ia sering ditanam sebagai pagar hidup di pekarangan rumah. Di Mali, Afrika Barat, jarak pagar digunakan untuk melindungi kebun dari gangguan binatang perusak.
Sementara itu, jarak kaliki memiliki daun menjari dengan tepi bergerigi dan sering disebut palma Christi atau hand of Christ karena bentuknya yang menyerupai telapak tangan.
Keduanya memiliki kemiripan fisik, namun bisa dibedakan berdasarkan bentuk daun dan jumlah jari. Jarak pagar memiliki daun berbentuk jantung, sedangkan jarak kaliki memiliki daun menjari dengan 7–9 jari.
Manfaat Tanaman Jarak untuk Industri dan Energi
Tanaman jarak memiliki banyak manfaat, baik dalam bidang energi, farmasi, maupun industri. Minyak jarak bisa digunakan sebagai bahan bakar alternatif, oli pelumas, pestisida alami, dan obat-obatan.
Di bidang farmasi, minyak jarak kaliki sering diresepkan sebagai obat minum untuk membantu buang air besar. Di masa lalu, minyak ini juga digunakan sebagai bahan pembuatan sabun, lotion, cat, dan plastik.
Dalam industri otomotif, minyak jarak dikenal sebagai castor oil, yang digunakan sebagai pelumas kendaraan. Salah satu merek dagang yang populer adalah Castrol, yang diambil dari nama minyak jarak ini.
Potensi Tanaman Jarak sebagai Energi Terbarukan

Karena memiliki potensi sebagai bahan bakar alternatif, tanaman jarak sempat menjadi perhatian kembali ketika harga solar melambung. Pengusaha mulai ramai memanfaatkan kesempatan ini dengan menjual benih jarak atau menanamnya. Di India, Brasil, dan beberapa negara Afrika, jarak sudah lama digunakan sebagai bahan bakar.
Kelebihan tanaman jarak adalah kemampuannya bertahan di berbagai kondisi lingkungan, termasuk daerah kering dan tandus. Ia mudah tumbuh, tidak butuh perawatan khusus, dan bisa dipanen dalam waktu singkat.
Proses pengambilan minyak dari biji jarak mirip dengan proses pengambilan minyak dari kelapa sawit, tetapi minyak jarak tidak bisa dikonsumsi sebagai bahan pangan.
Baca juga : Kawasan Konservasi Gunung Sawal Jadi Penyangga Air dan Ekologi, Masyarakat Diminta Jaga Kelestarian
Bahaya Racun Ricin pada Tanaman Jarak
Meskipun memiliki banyak manfaat, tanaman jarak juga menyimpan bahaya. Jarak pagar dan kaliki tergolong tanaman beracun. Biji jarak kaliki mengandung racun bernama ricin, yang sangat berbahaya.
Ricin bisa menyebabkan keracunan parah jika tertelan, terutama pada anak-anak.
Ricin juga pernah digunakan dalam beberapa kasus pembunuhan, seperti kasus Georgi Markov, wartawan BBC yang dibunuh dengan ujung payung yang mengandung racun.
Baca juga : Dugaan pencemaran lingkungan di tasikmalaya
Ricin juga dikenal sebagai zat beracun yang pernah muncul dalam sejumlah kasus kriminal internasional. Meskipun beracun, ricin bisa dimanfaatkan sebagai pestisida alami dan dapat dimanfaatkan dalam penelitian medis tertentu.
Kesimpulan
Tanaman jarak memiliki sejarah panjang, mulai dari masa pendudukan Jepang hingga kegunaannya saat ini sebagai sumber energi terbarukan. Meskipun memiliki potensi besar, penggunaannya juga perlu hati-hati karena adanya racun yang terkandung di dalamnya.
Dengan manfaat dan risiko yang seimbang, tanaman jarak tetap menjadi salah satu tanaman yang layak dipertimbangkan dalam berbagai bidang.
FAQ
Mengapa pada masa pendudukan Jepang di Indonesia rakyat dipaksa untuk menanam tanaman jarak?
Jawab
Karena minyak dari biji jarak digunakan sebagai pelumas mesin perang dan pesawat militer Jepang selama Perang Dunia II.
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Channel Whatsapp
Follow Instagram MCNNEWS.ID
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Facebook




















