Rabu, Juli 1, 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Login
  • Kirim Tulisan
  • Profil Penulis
  • Disclaimer
  • Sitemap
  • Masuk
MCN News.ID | Media Cinta Nusantara
  • Berita
    • Berita Internasional
  • Daerah
    • Jawa Barat
    • Bandung & Kab. Bandung
    • Bekasi
    • Ciamis
    • Garut
    • Indramayu
    • Kabupaten Pangandaran
    • Kota Banjar
    • Kuningan
    • Tasikmalaya
    • Profil Ciamis
    • Profil Kecamatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Pariwisata
    • Kuliner
    • Otomotif
    • Agama
      • Ramadhan Series
    • Hiburan
    • Lingkungan
      • Fauna Flora
  • Olah Raga
    • Piala Dunia FIFA 2026
  • Teknologi
  • Sejarah & Budaya
  • Tokoh & Opini
  • Advertorial
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
MCN News.ID | Media Cinta Nusantara
  • Berita
    • Berita Internasional
  • Daerah
    • Jawa Barat
    • Bandung & Kab. Bandung
    • Bekasi
    • Ciamis
    • Garut
    • Indramayu
    • Kabupaten Pangandaran
    • Kota Banjar
    • Kuningan
    • Tasikmalaya
    • Profil Ciamis
    • Profil Kecamatan
  • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Pariwisata
    • Kuliner
    • Otomotif
    • Agama
      • Ramadhan Series
    • Hiburan
    • Lingkungan
      • Fauna Flora
  • Olah Raga
    • Piala Dunia FIFA 2026
  • Teknologi
  • Sejarah & Budaya
  • Tokoh & Opini
  • Advertorial
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
MCN News.ID | Media Cinta Nusantara
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Berita
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olah Raga
  • Teknologi
  • Sejarah & Budaya
  • Tokoh & Opini
  • Advertorial
Home Sejarah & Budaya

Martabe, kekuatan budaya yang membangkitkan solidaritas pasca-bencana di Tapanuli Selatan

shanny ratman Oleh shanny ratman
08/02/2026
in Sejarah & Budaya
Waktu Membaca:3 menit membaca
A A
0
0
Dibagikan
0
Dilihat
Berbagi di FacebookBerbagi di TwitterBerbagi di WhatsappBerbagi di Telegram
ADVERTISEMENT

MCNNEWS.ID

ADVERTISEMENT

Banjir dan longsor yang terjadi di Tapanuli Selatan menyisakan duka bagi warga. Namun di tengah kerusakan dan keterbatasan, semangat kebersamaan tetap terlihat.

Martabe dianggap sebagai kearifan lokal yang menghargai martabat, persatuan, dan tanggung jawab sosial. Nilai budaya martabe berperan sebagai perekat yang mempersatukan.

Ketua Martabe Research Centre Universitas Aufa Royhan Padangsidimpuan, Lucy Widasari menyaksikan martabe terwujud dalam sikap untuk hadir, melayani, dan berbagi tanpa batas. Hal ini tampak dari kampus yang berubah menjadi posko penanggulangan bencana, posko kesehatan, hingga dapur umum. Lucy melihat budaya ini menjadikan kemanusiaan sebagai inti dari tindakan.

Berita Terkait

edit post
tanaman jarak

Di Balik Tanaman Jarak, Ada Kisah Kelam Pendudukan Jepang di Jawa

18/05/2026
edit post
kain Kiswah

Mengenal Kain Kiswah Penutup Ka’bah: Sejarah, Makna, Proses Pembuatan hingga Fakta Menariknya

08/05/2026
edit post
Binokasih

Sejarah Mahkota Binokasih dari Kerajaan Galuh dan Tradisi Kirabnya

02/05/2026
edit post
Sejarah Yakult

Sejarah Yakult: Dari Penemuan Ilmiah hingga Menjadi Minuman Probiotik Mendunia

15/04/2026

“Gizi menjadi garis depan dalam menghadapi bencana. Tanpa asupan yang cukup, risiko penyakit meningkat, kekebalan tubuh menurun, dan proses pemulihan masyarakat akan berlangsung jauh lebih lambat, khususnya bagi anak-anak, ibu hamil, dan lansia,” ujar Lucy dalam pernyataannya pada Kamis (1/1/2026).

Pernyataan tersebut terlihat jelas dalam tindakan nyata yang dilakukan Lucy di lapangan. Di titik-titik pengungsian, dapur umum yang menggunakan bahan pangan lokal dihidupkan sebagai penopang utama kebutuhan pokok. Menu makanan bergizi tinggi disiapkan dari bahan yang sudah dikenal dan mudah diterima oleh masyarakat, seperti ubi, jagung, dan telur.

Selain itu, bantuan berupa makanan dan paket kebutuhan pokok didistribusikan secara khusus kepada kelompok yang rentan, seperti balita, ibu hamil, dan lansia, agar memastikan kecukupan gizi tetap terjaga dalam kondisi darurat.

Di dalam tenda-tenda pengungsian, ruang layanan psikososial, maupun titik-titik penyaluran bantuan, martabe muncul melalui rasa empati yang tulus dan kerja sama yang berkelanjutan.

“Krisis tidak menghilangkan rasa peduli, justru membangkitkan kembali nilai persatuan yang sudah lama tertanam dalam kehidupan masyarakat,” kata Lucy.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, Lucy mengatakan tim lapangan memberikan berbagai kebutuhan pendukung, mulai dari perlengkapan higiene, alat pembersih, tenda pengungsi, peralatan memasak, hingga fasilitas air bersih seperti tangki, ember, generator, dan pompa air. Di bidang kesehatan, pemeriksaan rutin dan layanan pengobatan terus dilakukan guna mencegah penyakit pasca-banjir, seperti diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), yang sering mengancam para korban bencana.

Ketua Yayasan Universitas Aufa Royhan, Henniyati Harahap, yang turut serta langsung ke lokasi bencana, menegaskan bahwa kehadiran perguruan tinggi tidak boleh hanya sebatas memberikan bantuan. Pada kondisi bencana, masyarakat membutuhkan lebih dari logistik, yaitu kehadiran, perhatian, dan pendampingan yang berkelanjutan.

“Kami berharap para korban dapat merasa tidak kesepian saat menghadapi masa sulit ini,” kata Henniyati.

Henniyati menganggap partisipasi langsung dari pimpinan dan komunitas akademik sebagai bentuk komitmen kemanusiaan serta tanggung jawab moral lembaga pendidikan untuk hadir di tengah masyarakat saat paling dibutuhkan.

ADVERTISEMENT

Henni mengatakan bahwa keterlibatan akademisi, mahasiswa, relawan, dan masyarakat menunjukkan bahwa di tengah keterbatasan akibat bencana, rasa solidaritas justru semakin kuat. Dalam kerangka budaya martabe, menurutnya, harapan dapat kembali pulih.

“Kepercayaan kembali terbangun, dan semangat untuk bangkit bersama muncul dari kepedulian yang nyata,” kata Henniyati.

Rektor Universitas Aufa Royhan, Anto J. Hadi mengatakan bahwa bencana tidak boleh menghilangkan harapan masyarakat. Pada masa krisis ini, Anto percaya bahwa perguruan tinggi harus berada di garis depan dalam upaya kemanusiaan.

“Martabe mengajarkan kita tidak hanya datang membawa ilmu, tetapi juga perasaan—bersama masyarakat, hingga mereka benar-benar bangkit,” kata Anto.

Anto memastikan nilai martabe di Tapanuli Selatan bukan hanya menjadi ucapan belaka, tetapi menjadi pedoman etika yang mengarahkan langkah pemulihan.

“Daripada kampus, ke desa, demi masa depan yang lebih tangguh dan mandiri,” kata Anto.

Tags: beritabudayaBudaya & SejarahMasyarakatsejarah
Berita Sebelumnya

Sampurasun Liga 2, Sayonara Liga 3, PSGC Melenggang Usai Adu Penalti

Berita Berikutnya

Cindolo Taharo Bulukumba, Minuman Tradisional Berbahan Sagu yang Tetap Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

shanny ratman

shanny ratman

Shanny Kuswardi Ratman merupakan praktisi media digital dan pengelola portal berita yang aktif dalam pengembangan konten informatif, SEO berita, serta sistem newsroom berbasis WordPress. Berfokus pada penguatan kualitas publikasi digital, ia memiliki minat pada pengelolaan media online, strategi distribusi berita, dan optimalisasi konten untuk platform pencarian serta Google Discover. Dengan pengalaman di dunia publikasi digital, terus mendorong penyajian informasi yang cepat, akurat, dan relevan bagi pembaca.

Berita Terkait

edit post
tanaman jarak

Di Balik Tanaman Jarak, Ada Kisah Kelam Pendudukan Jepang di Jawa

18/05/2026
edit post
kain Kiswah

Mengenal Kain Kiswah Penutup Ka’bah: Sejarah, Makna, Proses Pembuatan hingga Fakta Menariknya

08/05/2026
edit post
Binokasih

Sejarah Mahkota Binokasih dari Kerajaan Galuh dan Tradisi Kirabnya

02/05/2026
edit post
Sejarah Yakult

Sejarah Yakult: Dari Penemuan Ilmiah hingga Menjadi Minuman Probiotik Mendunia

15/04/2026
edit post
perayaan Cap Go Meh

Perayaan Cap Go Meh di Kampung Kerukunan Berlangsung Semarak dan Meriah

04/03/2026
edit post
tradisi yee sang

Mengenal Tradisi Yee Sang saat Imlek, Simbol Kelimpahan dan Kebersamaan Keluarga Tionghoa

17/02/2026
Berita Berikutnya
edit post
Cindolo Taharo Bulukumba, Minuman Tradisional Berbahan Sagu yang Tetap Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Cindolo Taharo Bulukumba, Minuman Tradisional Berbahan Sagu yang Tetap Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

edit post
Kak Baehaki Efendi: Penegak Bantara Harus Jadi Agen Perubahan di Sekolah dan Masyarakat

Kak Baehaki Efendi: Penegak Bantara Harus Jadi Agen Perubahan di Sekolah dan Masyarakat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
ADVERTISEMENT
MCN News.ID | Media Cinta Nusantara

MCNNews.id | Media Cinta Nusantara adalah portal berita online bagian dari MCN Group yang menyajikan informasi aktual dan terpercaya, dengan semangat “Mengabarkan Kebenaran, Menyatukan Nusantara.”

IKUTI SOSMED KAMI

INFORMASI

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Login
  • Kirim Tulisan
  • Profil Penulis
  • Disclaimer
  • Sitemap

Media Berita

  • Kabarniaga.com
  • MCN Update
  • Fokusjabar.id
  • Dejurnal.com
  • Portaloka.id
  • Kondusif.com
  • Lenterajabar.com

ALAMAT REDAKSI

MCN News.ID – Media Cinta Nusantara
Alamat Redaksi: Jl. Ahmad Yani no 73 Kec. Ciamis
Kabupaten Ciamis, Jawa Barat 46211
Telp/WA: +62 838-7470-5999
Email: redaksi@mcnnews.id

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Login
  • Kirim Tulisan
  • Profil Penulis
  • Disclaimer
  • Sitemap

© 2026 MCN News.ID | Media Cinta Nusantara, Member Of MCN Group | One Stop Professional Service

Selamat Datang kembali!

Masuk ke akun Anda di bawah ini

Lupa kata sandi?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Olah Raga
    • Piala Dunia FIFA 2026
  • Ciamis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Kuliner
  • Pariwisata
  • Sejarah & Budaya
  • Teknologi
  • Tokoh & opini

© 2026 MCN News.ID | Media Cinta Nusantara, Member Of MCN Group | One Stop Professional Service